Cerita Inspirasi #2

Nama   : Dian Joanita

NRP    : F24100106

Fak      : Teknologi Pangan

Dept    : Ilmu dan Teknologi Pangan

Cerita Inspirasi

Suatu hari saya baca buku ciptaan Joel Osteen. Buku itu saya pinjam dari teman saya. Entah mengapa hari itu teman saya meminjamkan buku itu. Awalnya buku itu cukup terlihat membosankan buat saya. Bayangkan saja membaca buku empat ratus halaman dalam bahasa inggris. Tapi ketika saya mulai membacanya, saya mulai tertarik dan semakin ingin membacanya terus.

Buku itu berisi berbagai motivasi-motasi dan pemikiran-pemikiran yang genius dan terbuka. Banyak hal yang saya baru saya sadari setelah saya membaca buku itu. Banyak pemikiran berbeda yang  membuat pikiran saya terbuka. Tidak terpaku pada pemahaman saya dan berusaha melihat dari sudut pandang orang lain. Banyak hal yang saya pelajari dan mengubah pandangan saya karena karya Joel Osteen tersebut.

Saat saya mengalami masa-masa sulit dalam hidup saya, saya sering mengingat-ingat isi buku tersebut. Bahwa semua kesulitan-kesulitan dalam hidup saya bukan karena Allah itu jahat, tapi karena  Dia baik, dia mau membentuk saya lewat permasalahan-permasalahan hidup saya. Dan tentunya saya harus bersikap positif dalam menghadapi permasalahan tersebut. Saya berusaha sebaik mungkin untuk tidak berpikir negative bahwa saya tidak dapat menyelesaikan masalah tersebut. Tidak menganggpa masalah tersebut adalah segalanya. menganggap masalah besar adalah kecil dan menganggap masalah kecil tidak ada. Bukan artinya saya tidak menganggap masalah lalu saya kabur. Tapi saya membereskan masalah itu tanpa beban. Joel Osteen dan karya-karyanya adalah inspirasi saya.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Cerita Inspirasi #1

Nama   : Dian Joanita

NRP    : F24100106

Fak      : Teknologi Pangan

Dept    : Ilmu dan Teknologi Pangan

Certita Inspirasi

Sedari dulu saya merasa saya bukan tipe orang yang mengagumkan atau berpengaruh bagi orang banyak. Kata-kata menjadi inspirasi bagi banyak orang rasanya terlalu berlebihan bagi saya untuk apa yang saya lakukan. Tapi bila saya boleh bercerita sedikit, saya akan membagikan sedikit pengalaman yang cukup berkesan buat saya.

Sejak memasuki masa SMA, orang tua saya sering mengikuti berbagai acara seminar kesehatan. Mulai dari detoksifikasi dengan jeruk nipis, makan nasi merah, mengurangi makanan berminyak dan sebagainya. Menyadari pentingnya hidup sehat demi mengoptimalkan pekerjaan dan tugas tanggung jawab, keluarga saya pun semakin peduli akan kesehatan. Oleh karena itu ibu saya selalu memasak makanan yang tidak hanya bergizi namun juga menyehatkan.

Awalnya saya benci harus makan nasi merah, mengurangi goreng-gorengan, makan asyuran rebus, minum jeruk nipis, waaahhh,, bosan sekali dengan makanan-makanan yang berasa agag tawar. Bahkan saya dilarang makan snack yang mengandung vetsin  atau monosodium glutamate, atau bahan pengawet, penguat rasa dsb. Padahal saya sangat suka makanan-makanan ringan seperti itu.

Tapi setelah beberapa minggu saya menjalani pola hidup sehat, saya semakin terbiasa dan menyukainya. Mungkin karena pola piker saya akan kesehatan pun berubah. Walaupun rasanya saya masih mau menikmati hidup dengan makan makanan yang enak-enak dan entah itu sehat atau tidak, tapi apa salahnya memupuk kesehatan saya sejak dini. Bayangkan bila saya tidak menjaga kesehatan, apa yang saya dapatkan ketika saya berumur 40 tahun keatas? Mungkin saya sudah mengidap penyakit-penyakit seperti diabetes, darah tinggi, bahkan struk. Sebagai kaum muda intelek, saya tidak mau hal yang dialami generasi orangtua kita itu terjadi lagi pada generasi muda sekarang karena ketidaktahuan dan ketidakpedulian mereka terhadap kesehatan.

Bayangkan bila anda baru berumur 45 tahun, tahun-tahun keemasan seseorang untuk berkarir, anda malah tergeletak di rumah sakit karena kemalasan anda untuk hidup sehat. Cita-cita yang anda tanam dan pupuk sekarang akan jadi percuma. Bukankah kita mau menjadi manusia yang memaksimalkan potensi diri dan bermanfaat bagi banyak orang? Lalu bagaimana kalau kita sudah berusaha, belajar, dan bekerja keras, namun hanya karena masalah kesehatan jalan kita terhambat?

Tanpa disadari ketika saya makan bersama teman dan berbicara sedikit mengenai hal-hal kesehatan ini, teman-teman saya pun mulai terpengaruh dan memulai untuk memilih makanan yang masuk ke dalam tubuh mereka. Tidak lagi makan asal enak, tapi asal sehat. Jadi saya pikir dari hal sederhana ini dan hanya dari sikap dan kelakuan saya dalam hal memperhatikan makanan sehat, saya cukup menginspirasi orang sekeliling saya. Kesadaran seperti ini saya harap dapat terus disebar luaskan bagi generasi muda kita.

Posted in Uncategorized | Leave a comment